Tuesday, March 25, 2008

The First Review

I realize this is a rather unique situation. Here I am, writing a journal of my creative process, of a book that cannot be immediately read and enjoyed by all of you who have visited this blog, and knew about its process inside out. You do not know the book yet, and yet you know the insight story of its birth.

Writing a synopsis is the best that I can offer for now. I hope you’re all willing to accept this small gift.

There aren’t many people who directly witness this ‘creative birth’ process as well. Only those who live in the same house with me, the three girls that were my neighbors in kos-kosan, and a few friends that somehow affected by this writing project (karena antara lain saya jadi menghilang, buronan segala pekerjaan yang tertunda, dsb).

I can start my thank list now, but I’m afraid it will be too long and somewhat immature. Daftar itu sepertinya masih akan berkembang. Nevertheless, I thank Kib Roby and his wife Diah, also my dosen back in Unpar, Pak Nyoman, for the Bali/Balinese information. I thank Mulki for his precious info and photos on Ranca Buaya, which I had to pick up very late at night. I thank my lil’ sis, Dede, yang sudah berbaik hati ngeprint draft. I thank Ogin, Teh Enny, Berna, who had taken care of me and made all this process possible. And the list goes on and on… tidak akan saya lengkapi sekarang… but, I am forever in debt and grateful for the support from my producer/dearest friend/soul mirror, Reza, who had shown his deep passion and enthusiasm towards this project from day one (he was the one who gave me the Steve Manning e-book, btw). His geeky and systematic nature had helped a lot to map out my frantic scheduling. His presence has been such a profound healing and delightful refreshment throughout this magical and occasional hellish journey.

And since he’s the only one who has read the draft from page one till finish (I haven’t even finished it! Shame on me!), and probably the only “Perahu Kertas” reader I have from today till six months later, his feedback is the only review and endorsement that I have for now (yang kebetulan sudah tercicip nuansa pengamat sastranya, hehe). Tak lengkap rasanya jika menuliskan sinopsis tanpa ada komentar umpan balik. Sinopsis bagi saya hanyalah cerita terkondens, tapi impresi yang ditangkap pembacalah yang menjadikannya hidup. So, demi melengkapkan siklus tersebut, saya akan tampilkan komentar Reza berikut ini (taken from his comment on my previous posting):

“Atas nama objektivitas, saya harus mengakui betapa sulitnya menjadi produser informal, sahabat dekat penulis sekaligus pembaca pertama Perahu Kertas dan sekaligus berusaha memberikan sudut pandang yang jernih.

Tertawa terpingkal-pingkal, haru, bercermin ke dalam, sedih, gemas, momen ‘bohlam menyala’ serta ketulusan yang tidak dibuat-buat. Barangkali hanya spektrum rasa diatas berbalut kekaguman mendalam yang bisa saya ungkapkan tentang tulisan ini.

Sebuah kisah cinta yang sepintas terlihat sederhana dan populer dihadirkan dengan detil-detil dan alur cerita yang khas Dee: mengejutkan, mengharukan, dan menggiring saya untuk tak bisa berhenti membaca. Dan di tengah-tengah momen emosional antara berbagai karakter yang terasa sekali pematangannya, penulis tiba-tiba menghantam sisi filosofis saya tentang cinta, kejujuran, menjadi diri sejati.

Di akhir cerita, saya mendapatkan diri sendiri, berlinang air mata, entah bersyukur, entah kagum, atau karena tidak menyangka bahwa saya bisa tersentuh begitu mendalam lewat cara pengungkapan yang begitu ringan.”

Mudah-mudahan review sekaligus sinopsis yang sudah saya muat di sini mampu melengkapkan perjalanan awal "Perahu Kertas". Sekali lagi, terima kasih untuk segala dukungan, kunjungan, dan doanya.

Pic #1: Me and Reza, celebrating “Perahu Kertas” birth over lunch at FJ, Darmawangsa Square.



Sinopsis "Perahu Kertas"

Kisah ini dimulai dengan Keenan, seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis yang sangat kuat, dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Indonesia untuk kuliah. Keenan diterima berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi.

Di sisi lain, ada Kugy, cewek unik cenderung eksentrik, yang juga akan berkuliah di universitas yang sama dengan Keenan. Sejak kecil, Kugy menggila-gilai dongeng. Tak hanya koleksi dan punya taman bacaan, ia juga senang menulis dongeng. Cita-citanya hanya satu: ingin menjadi juru dongeng. Namun Kugy sadar bahwa penulis dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan dan mudah diterima lingkungan. Tak ingin lepas dari dunia menulis, Kugy lantas meneruskan studinya di Fakultas Sastra.

Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko adalah sepupu Keenan, sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak kecil. Terkecuali Noni, mereka semua hijrah dari Jakarta, lalu berkuliah di universitas yang sama di Bandung.Mereka berempat akhirnya bersahabat karib.

Lambat laun, Kugy dan Keenan, yang memang sudah saling mengagumi, mulai mengalami transformasi. Diam-diam, tanpa pernah berkesempatan untuk mengungkapkan, mereka saling jatuh cinta. Namun kondisi saat itu serba tidak memungkinkan. Kugy sudah punya kekasih, cowok mentereng bernama Joshua, alias Ojos (panggilan yang dengan semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara Keenan saat itu dicomblangkan oleh Noni dan Eko dengan seorang kurator muda bernama Wanda.

Persahabatan empat sekawan itu mulai merenggang. Kugy lantas menenggelamkan dirinya dalam kesibukan baru, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah ia bertemu dengan Pilik, muridnya yang paling nakal. Pilik dan kawan-kawan berhasil ia taklukkan dengan cara menuliskan dongeng tentang kisah petualangan mereka sendiri, yang diberinya judul: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Kugy menulis kisah tentang murid-muridnya itu hampir setiap hari dalam sebuah buku tulis, yang kelak ia berikan pada Keenan.

Kedekatan Keenan dengan Wanda yang awalnya mulus pun mulai berubah. Keenan disadarkan dengan cara yang mengejutkan bahwa impian yang selama ini ia bangun harus kandas dalam semalam. Dengan hati hancur, Keenan meninggalkan kehidupannya di Bandung, dan juga keluarganya di Jakarta. Ia lalu pergi ke Ubud, tinggal di rumah sahabat ibunya, Pak Wayan.

Masa-masa bersama keluarga Pak Wayan, yang semuanya merupakan seniman-seniman sohor di Bali, mulai mengobati luka hati Keenan pelan-pelan. Sosok yang paling berpengaruh dalam penyembuhannya adalah Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan mulai bisa melukis lagi. Berbekalkan kisah-kisah Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang diberikan Kugy padanya, Keenan menciptakan lukisan serial yang menjadi terkenal dan diburu para kolektor.

Kugy, yang juga sangat kehilangan sahabat-sahabatnya dan mulai kesepian di Bandung, menata ulang hidupnya. Ia lulus kuliah secepat mungkin dan langsung bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copywriter. Di sana, ia bertemu dengan Remigius, atasannya sekaligus sahabat abangnya. Kugy meniti karier dengan cara tak terduga-duga. Pemikirannya yang ajaib dan serba spontan membuat ia melejit menjadi orang yang diperhitungkan di kantor itu.

Namun Remi melihat sesuatu yang lain. Ia menyukai Kugy bukan hanya karena ide-idenya, tapi juga semangat dan kualitas unik yang senantiasa terpancar dari Kugy. Dan akhirnya Remi harus mengakui bahwa ia mulai jatuh hati. Sebaliknya, ketulusan Remi juga akhirnya meluluhkan hati Kugy.

Sayangnya, Keenan tidak bisa selamanya tinggal di Bali. Karena kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk, Keenan terpaksa kembali ke Jakarta, menjalankan perusahaan keluarganya karena tidak punya pilihan lain.

Pertemuan antara Kugy dan Keenan tidak terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi. Semuanya dengan kondisi yang sudah berbeda. Dan kembali, hati mereka diuji. Kisah cinta dan persahabatan selama lima tahun ini pun berakhir dengan kejutan bagi semuanya. Akhirnya setiap hati hanya bisa kembali pasrah dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski kadang pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.

Diwarnai pergelutan idealisme, persahabatan, tawa, tangis, dan cinta, “Perahu Kertas” tak lain adalah kisah perjalanan hati yang kembali pulang menemukan rumahnya.

Reintroducing “Perahu Kertas”

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan seputar sinopsis sekaligus mekanisme untuk mendapatkan Perahu Kertas, saya merasa sebuah penjelasan plus ‘contekan’ kecil tentang isi cerita memang dibutuhkan.

Proyek Perahu Kertas, sebagaimana yang pernah saya tulis sebelumnya, diinisiasi oleh adanya tawaran dari perusahaan content provider bernama Hypermind yang akan bekerja sama dengan sebuah perusahaan telekomunikasi untuk meluncurkan layanan buku digital yang bisa dibaca lewat layar HP. Seiring dengan proses yang berjalan, akhirnya proyek ini menggandeng XL sebagai pihak telco yang akan meluncurkan layanan ini kepada para pelanggan XL. Dan saya punya kontrak enam bulan eksklusif untuk tidak mencetak buku ini ke pasar umum. Jadi, selama enam bulan, terhitung 3 April 2008 (tanggal peluncuran resmi yang baru), Perahu Kertas hanya akan bisa dibaca lewat layar ponsel, bagi mereka yang pelanggan XL.

Sekitar bulan Oktober-November barulah Perahu Kertas bisa ditemui dalam versi cetak di toko-toko buku. Bagi yang kepingin membaca dan memiliki versi cetak ini, mohon bersabar, ya ☺
Dan, sekarang, the golden question: tentang apa sih Perahu Kertas ini?

Saya menyadari bahwa citra Supernova sangat lekat dengan identitas kepenulisan saya. Bahkan, bagi mereka yang fanatik, Supernova – baik isi, tema, maupun gaya penulisan – dianggap sebagai karakteristik tunggal saya dalam menulis. Kenyataannya, tidak demikian. Sejak dulu, saya menyadari bahwa rentang minat maupun gaya tulisan saya cukup luas. Saya bahkan bercita-cita menjadi penulis segala segmen. Saya ingin menulis untuk anak-anak, remaja, dan dewasa. Saya ingin menulis dari mulai fiksi hingga nonfiksi. Saya menikmati dongeng, puisi, fiksi populer, sastra, dan nonfiksi, sekaligus berkeinginan kuat untuk menciptakannya.

Bagi mereka yang ‘terkunci’ dengan serial Supernova 1 (KPBJ), mungkin agak terkejut membaca warna tulisan dalam Supernova 2 (Akar), apalagi dengan Supernova 3 (Petir) yang cenderung humoris dan ‘asal’. Begitu pula ketika muncul Filosofi Kopi, yang merupakan kumpulan cerita pendek saya yang pertama. Lagi-lagi, Perahu Kertas merupakan perjalanan yang berbeda dibandingkan semua karya saya sebelumnya.

Bisa dibilang, Perahu Kertas adalah fiksi populer saya yang pertama. Saya tidak bisa menggolongkannya ke dalam ‘chicklit’, karena dari karya-karya ‘chicklit’ yang saya baca dan pelajari di pasaran, Perahu Kertas jauh lebih berat ketimbang ‘chicklit’ – baik dari bobot maupun volume. Tapi, Perahu Kertas bukanlah Supernova atau Filosofi Kopi yang dikategorikan sebagai sastra (setidaknya ini pendapat saya, entah para pengamat/kritikus sastra di luar sana).

Bagi mereka yang pernah membaca “Ke Gunung Lagi” karya Katyusha pada tahun ’80-an, pasti mengerti apa yang saya maksud. Jika ada namanya, ke dalam kategori itulah Perahu Kertas bisa muat dengan pas. Sejauh ini saya lebih sreg menyebutnya sebagai fiksi populer. Lalu, apakah novel-novel populer Mira W dan V. Lestari cukup mewakili sebagai perbandingan? Tidak juga. Dari umur pembaca, Perahu Kertas lebih dekat ke remaja-dewasa (SMA ke atas). So, yeah, urusan penggolongan ini memang memusingkan. Makanya sejak dulu saya kurang suka dikotak-kotakkan.

I can never say much about category. All I know is, whatever and however my writings are, they have to be: touching, meaningful, entertaining, stimulating, awakening. Entah itu menulis dongeng balita atau nonfiksi, those are just my golden formulas. I care less about category.

I can only hope you will enjoy Perahu Kertas, as much as I enjoy writing it. I can only hope you will be touched, as I am touched throughout the whole creative process.

Sinopsis akan dimuat dalam posting terpisah. Enjoy!





Wednesday, March 12, 2008

Day 60 – Perahu Kertas Berlabuh

This is it. The 55 days project. Plus five. 5.55. Funny. I saw that number this afternoon. Guess the universe was trying to tell me something, or reconfirm something. 555.

I started very late. Perhaps, knowing that this would be my last day, a part of me didn’t want to believe it. Walaupun hari-hari produksi ini bukanlah momen yang selamanya gampang dan mulus, malah seringnya berat dan keparat, ternyata di bawah sadar sana, saya merasa ada bagian yang merasa kehilangan dengan itu semua.

Pagi ini, saya pergi ke Pasar Cihapit bersama Keenan dan Berna, babysitter saya. Saya membeli aneka keperluan dapur, plus beli tempe bacem di warung nasi langganan saya (Bu Eha – you guys might have read her name in my ‘Cuap-cuap Penulis’ in Supernova 1). I just want to have the best lunch ever. After lunch, in a normal dining table that is, not on a sofa bed like I used to have in HQ, I started planning to escape.

I could hear Keenan was crying out loud when he realized I was gone. And I couldn’t bear it. So I left my HQ again, menemani dia nonton teve, sambil membacakan cerita. I just waited until he calmed down. Baru lepas pukul 3, saya bisa ‘kabur’.

I moved slowly in the beginning, bahkan beberapa kali sempat tergoda oleh ke-kurangpenting-an Facebook. Dan ternyata, memang ada ‘alur macet’ di awal Bab 46 ini, yang ketika jalan ceritanya dikoreksi, aliran kreativitas kembali lancar.

Saya bikin taruhan dengan produser saya, bahwa Perahu Kertas akan selesai pada pukul 9 malam. I said, I could do it. Lima menit menuju pukul 9, it’s finished. But, hey, I wanted to write an epilogue. So I added a half page. 9.05 PM, the story is completely finished. 12 Maret 2008, 9.05 PM, Perahu Kertas lahir.

I checked my word count. Ready? It’s 84,911 words.

The longest single novel I’ve ever written in my whole frikkin’ life.

The night was not over. Saya menyempatkan makan malam di HQ, terakhir kalinya dalam masa produksi Perahu Kertas. At 9.45, I went downstairs. Keenan masih bangun, dan kami sempat bermain. Bahkan saya sempat menonton American Idol.

The last part of the day: printing. Kemarin, saya sudah membeli toner baru karena tahu akan mencetak ratusan halaman. Dibantu oleh adik saya (dan komputernya yang super aneh bin ajaib itu), saya bertemu muka dengan Perahu Kertas pertama kalinya. Gosh. It was a FAT BABY! Tebalnya sekitar 4 sentimeter lebih. It was the thickest draft I’ve ever printed.
Everybody, I proudly present, my new baby:


Pic #2: Tampak Samping


And to my newborn, let me read to you the meaning of 555 in Angel Numbers:

Major changes and significant transformations are here for you. You have an opportunity to break out the chrysalis and uncover the amazing life you truly deserve.

Bon voyage, my child. May you have an amazing life. May you reside in many hearts. May you touch many souls.

Farewell, my child. You've broken your chrysalis. You belong to the world now. You’re free.

Day 59 – A Surprising ‘Ending’

As usual, I set up my HQ. A cup of coffee, a cup of hot chocolate, snacks that I haven’t finished, and lotsa of water. The rather unusual part was, Keenan didn’t go to school today. He woke up late, so did I. And so, it was quite challenging to find the perfect timing to escape.

I started a bit late. Close to lunch time. And it wasn’t easy to start the engine after it was heated up to such degree and then it took a sudden pause for three days. I felt like crawling back from zero.

Pe-er buntutnya Bab 43 pun masih tersisa. Akhirnya saya menyelesaikan Bab 43, dan mulai memasuki Bab 44 waktu siang menjelang sore. It was a rainy afternoon. Total, saya nggak keluar rumah sama sekali. Bahkan nggak keluar ruang kerja saya selama berjam-jam kecuali ke kamar mandi. And here’s the sms I wrote to my producer at 4.16 PM:
Moving on to the fifth page of Chapter 44. Gawat, nih. Bisa2 baru selesai di 46 instead of 45 ;p
My brain is extra burning today. Felt a slight headache. I was told that I might be rehydrated for I’d burned a lot of creative fire. And so I gobbled up some more water, and wrote, and wrote, and wrote.

Yep. Confirmed. I’m on Chapter 45… and… it’s not yet finished, people! Perahu akan menepi pada Bab 46. For sure.

I am so tempted to check my word count, but even for that, I didn’t have time. At 10 PM, I stopped. Otak terlalu panas. Kangen Keenan. And I really wanna take a hot shower. Phew.

Day 58 – Rescheduling

Pulang kembali ke Bandung sore hari. Berangkat pukul 5 dari Jakarta, dan tiba di Bandung pukul 7.30 malam. Keenan came along to pick me up. I miss him like crazy. Not only I didn’t have the heart to leave him for writing, I didn’t have the strength too. I was just so blah and tired.

I phoned Hypermind today, and asked about the launching. Saya agak khawatir karena tidak melihat persiapan yang cukup, dengan waktu yang terlalu mepet pula. Dan benar saja, sore hari tadi, saya mendapat kabar bahwa launching tanggal 12 positif diundur oleh pihak XL. And, yeah, that doesn’t mean much in my department, cause I’m still going to finish this project very soon. No reason to delay it. Na’da.

Tomorrow I’m going back to my HQ and launch this paper boat to its harbor. Wherever that may be.

Pausing The Timer (9) – Java Jazz

One of the biggest music events of the year. I’ve been missing it for two times, and I don’t miss this one. And so for three (exhausting) days, I rest my case. There’s just no way I can write. I’m still lucky to be alive and healthy. It was fun, but goddamn tiring. Lack of sleep, too much standing up, too much tobacco smoke, and mediocre food.
The music was so fine though. And I had the best company too. So, it was worth it. Wasn’t exactly the easiest week of my life, but I didn’t regret it. At all.